Senin, 23 Januari 2012

Konsep Neraka vs. Konsep Penjara

Hey, selamat malam. Semoga Anda semua baik-baik saja ketika memulai membaca tulisan saya ini. Sebelumnya, permintaan maaf saya tujukan pada Anda bila tulisan ini membingungkan, mengacak-acak ide-ide Anda, membuat bosan, atau bahkan membuat Anda jatuh cinta. Mungkin efek terakhir tidak mungkin terjadi, tapi ya sudahlah, intinya adalah "this is an era of a free speech where individual opinions we're protected, thus, I use this opportunity to share good things I got in my mind with the others. So, be grateful for those who'll read this till the end, as I'll be grateful as well..."


So here we go. Kebiasaan saya adalah ketika saya melakukan hal-hal yang sangat lazim dilakukan seperti makan, menyetir, atau (maaf) buang air besar, pikiran aneh muncul di benak saya. Kini menerpa saya ketika makan seporsi mie ayam kontemporer, adalah sebuah pemikiran bahwa konsep neraka yang dikenalkan kepada masyarakat mungkin tidak penuh atau agak terlalu kejam. Sebuah konsep radikal mungkin, tapi menurut saya konsep neraka tidak jauh berbeda dengan konsep penjara pada umumnya, dan dalam hal ini adalah penjara kelas kakap tempat bernaungnya begal, pembunuh, pemerkosa, tukang sodomi, rampok dan sampah masyarakat lainnya. Memang kejam tempat itu, tapi bukan sepenuhnya kekejaman diciptakan oleh sang pencipta penjara itu, atau neraka. Dalam hal ini, penjara diciptakan pemerintah, dan neraka mau tidak mau harus kita katakan diciptakan oleh Tuhan untuk menghindari segala ambiguitas akibat kurangnya informasi mengenai asal usul neraka.

Saya berikan komparasi sederhana bagi Anda supaya memahami apa maksud saya di sini. Saya akan menjelaskan mengenai apa yang terlintas di benak saya yang masih sempit pemikirannya ini, tentang sebuah konsep neraka, namun saya meminta Anda membayangkan sebuah penjara. Kini Anda bayangkan melihat penjara, di mana ada gerbang masuknya dan ada penjaganya. Ada tembok yang tinggi, dan pagar jeruji besi. Anda masuk ke dalam, di sana ada orang-orang yang tampangnya mengerikan. Anda orang baru di sana. Tentu saja, Anda akan dipelonco terlebih dahulu. Apa bentuknya? Saya tidak tahu, bisa pemukulan, pemalakan, perampasan, atau lebih parah (maaf) sodomi. Tidak senang bukan? Ya, itu memang nasib Anda berada di sini karena kesalahan Anda, akan tetapi, segala bentuk perpeloncoan tersebut tak ada di ketentuan penjara, bahwa napi yang baru masuk harus dipukul, rampas, dan segala macamnya itu. Maksud saya, itu terjadi secara natural dilakukan oleh penghuni yang lain, yang lebih parah, dan dipengaruhi faktor lingkungan. Apakah Direktur penjara mengatur hal tersebut? Tidak tahu, tapi yang jelas mereka tidak menulis hal tersebut dalam daftar Aturan Main Lembaga Pemasyarakatan. Siksaan batin sebenarnya muncul dari kelakuan penghuni penjara tersebut. Ya mungkin ada hukuman dari penjaga, tapi napi lainnya kadang memperparah keadaan. Ruang gerak Anda dibatasi, dan Anda tak bisa keluar dari siksaan fisik dan batin tersebut.

Sekarang kembali Anda ke dunia nyata, ke blog saya ini. Konsep yang saya gambarkan tadi tidak jauh beda, dalam pandangan saya, dengan konsep neraka pada umumnya. Bersifat mengganjar, hukuman, pembatasan pergerakan, siksaan. Akan tetapi, sungguh gegabah bagi kita bila mau mengklaim bahwa Tuhan secara langsung menghukum kita, menyiksa kita, membakar dan seterusnya. Untuk apa Tuhan dikatakan Maha Penyayang, Pengasih, Pengampun dan lain-lain bila Ia melakukan hal tersebut. Tuhan di sana hanya menciptakan sebuah tempat untuk mengganjar. Yang melakukan berbagai macam hal aneh tersebut tentu bukan Ia. Anda pernah dengar bahwa iblis ditempatkan di neraka? Ya anggaplah iblis itu bos dari para begal tersebut. Dia lah yang melakukan perpeloncoan dan keisengan terhadap Anda. Sehingga, Tuhan sebetulnya menurut saya, mungkin murka dengan kelakuan pendosa, akan tetapi serta merta tidak membalas dendam. Lebih kepada rasa kecewa bila diibaratkan manusia, sehingga dengan sangat menyesal, Anda ditempatkan di neraka, begitulah seperti kata di kuis-kuis televisi.

Apa yang kemudian ingin saya katakan di sini adalah bahwa jangan terlalu cepat kita menghakimi bahwa Tuhan itu keji karena menghukum pendosa, sehingga balik mencerca Tuhan dan segala macamnya. Mungkin bukan Ia yang keji, tapi konsep yang tertanam di benak kita yang salah mencerna apa yang seharusnya kita kenal. Mungkin konsep saya ini bukan konsep yang benar pula, akan tetapi, mungkin di luar sana ada yang setuju dan meyakini, seperti saya, bahwa apapun yang tertulis di kitab suci, Tuhan tetap Maha Baik, meskipun saya sering lalai dalam kewajiban saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar