Banyak orang yang mempertanyakan kenapa saya suka bermain, mengasah, merawat, mengoleksi, hingga tidur bersama benda tajam. Mau dijelaskan juga susah, karena tentu mereka sulit menerima. Oke, kalau Anda ndak percaya sama kalimat saya yang sebelumnya, coba cerna ini. "Saya suka benda tajam karena mereka terlihat indah dan mampu menciptakan keanggunan". Ada yang bisa menerima, ada yang tidak tentunya. Baiklah, saya jelaskan kalimat di atas.
Pertama, saya menyebut benda tajam sebagai substitusi pisau, pedang, golok, parang, etc. itu bukan tanpa maksud. Menggunakan istilah benda tajam dibandingkan istilah senjata memiliki signifikansi yang cukup besar menurut saya. Ya, memang mungkin beberapa benda tajam tadi dapat dikategorikan sebagai senjata, akan tetapi, lebih dari itu, benda tajam tersebut adalah alat, tools. Untuk apa? Tidak tahu! Fungsi tools adalah variabel, di mana konstantanya adalah pengguna itu sendiri. Lho? Gimana ceritanya Mas Dito kok tergantung orangnya? Gampangnya begini saja. Mas Dito adalah seorang tukang ikan. Mas Dito bekerja di counter ikan supermarket. Suatu hari, Mas Dito di berikan seekor ikan tuna seberat 160kg dan sebuah pedang katana. Apa yang Mas Dito lakukan? Kurang lebih, Mas Dito dengan statusnya sebagai tukang ikan, bakal membelah ikan tuna itu dengan susah payah menggunakan pedang katana itu. Lain halnya apabila Mas Dito adalah perampok. Mas Dito ada di hutan di pinggir perumahan warga. Mas Dito suatu hari menemukan sebuah golok baja. Instead of mencari kayu untuk dijual, karena Mas Dito adalah perampok, Mas Dito menyelinap mencari rumah warga, kemudian merampok di situ. Sekarang, berbeda kan? Got it?
Kedua, benda tajam, dalam berbagai bentuknya, saya lihat memiliki unsur keindahan. Tapi harap diperhatikan, benda tajam yang saya maksud di sini bukan benda tajam secara keseluruhan, tapi benda tajam yang tidak universal. Contohnya, silet, cutter, parang tramontina dan pisau dapur murahan, tidak akan saya anggap memiliki unsur estetis. Sebaliknya, pisau cukur, pisau sushi, golok kebun yang sudah dimodifikasi, dan sebuah pedang katana, memiliki unsur estetis yang cukup agar keindahannya dapat ditampilkan. Apa bedanya? Perhatikan list benda-benda di atas. List yang pertama, bila Anda mengerti maksud saya, tidak memiliki ke-khas-an tersendiri, dalam artian, satu sama lain bentuknya sama saja, dan dapat ditemui di mana-mana. Sementara, barang-barang di list kedua, adalah barang-barang yang khas. Misalnya, golok kebun hanya Anda temui di Indonesia, dan sulit menemukannya di Eropa, bahkan Jepang. Sementara, pedang katana dan pisau sushi (yanagiba) adalah khas Jepang dan yang tersebar hanya replikanya. Pisau cukur pun ada yang diproduksi secara limited, dan berbeda-beda, sehingga layak menjadi koleksi, seperti zippo. Untuk mengerti pasal ini, Anda mungkin harus mencoba sendiri. Coba beli sebuah pedang katana (replika saja, tidak usah nihonto), dan sebuah pisau dapur murahan. Anda pajang kedua benda tersebut di ruang tamu Anda, dan perhatikan, yang mana yang lebih merusak pemandangan.
Ketiga, benda tajam yang terkesan senjata tadi, tidak berbahaya, malah mengasyikkan. Kenapa begitu? Sebuah benda menjadi berbahaya bila digunakan untuk menyakiti orang lain. Hal ini terbukti ketika saya melempar seorang anak hingga jungkir balik hanya menggunakan tongkat bambu. Sadis amat? Gimana caranya? Bukan sadis pembaca sekalian, tapi itu hanya kesalahan pribadi dan salah perhitungan. Untuk caranya, lihat saja video aikido tentang tongkat melawan tangan kosong (ternyata cukup mudah dengan dasar beladiri yang cukup). Back to the topic. Sementara, saya tidak menggunakan koleksi saya untuk menyakiti siapapun. Satu-satunya orang yang tersakiti oleh koleksi saya hanyalah diri saya sendiri, di mana saya sering, tanpa sengaja, menyayat diri saya sendiri karena kecerobohan, dan kecerobohan itu tidak memiliki efek yang lethal, sehingga ini relatif tidak berbahaya. Mengasyikkan? Ini berkaitan dengan hobi pada dasarnya. Saya seringkali mengasah pisau, dalam sehari mungkin berkisar 3 jam. Ini saya lakukan tak lain karena kegemaran saya untuk melakukan modifikasi pada pisau. Saya melakukan ini, karena ada kepuasan tersendiri ketika saya selesai mengasah dan melihat hasilnya, sebuah pisau yang mengkilap, untuk saya pamerkan dan saya pajang. Tentu, saya mengasah tidak sembarangan. Tidak semua orang tau dan bisa mengasah. Kalau nekat, dia bisa merusak mata pisau. Saya menggunakan berbagai media yang mungkin tidak terpikirkan oleh Anda. Tapi ya, hasilnya bisa Anda lihat sendiri kalau Anda bertandang ke rumah saya. Sehingga, lebih dari bahaya, pisau yang mengkilat nan tajam tadi lebih terkesan indah. Kalau begitu, kenapa tidak menumpulkan pisau, lalu dikilatkan saja, kan bisa? Hahahaha, pisau mengkilat dan tumpul ibaratnya seperti barang KW, enak dilihat, tidak enak digunakan. Kasarnya seperti pelacur. Dilihat bagus, difungsikan sudah tidak baik. Prinsip saya, benda tajam, selain indah, juga harus fungsional. Maka dari itu, pisau saya yang mengkilap biasanya tajam, dan sangat fungsional untuk digunakan, entah memotong tulang, daging, bambu, kayu, dan kalau terpaksa, ya sebagai alat pertahanan diri.
Terakhir, benda tajam itu indahnya sulit digambarkan. Tapi dari apa yang saya pikirkan, benda tajam adalah gabungan dari sebuah karya seni berupa benda/patung/pajangan, dan lukisan, bahkan lebih dari itu. Keindahan benda tajam tak hanya dilihat dari baiknya kondisi benda tersebut, namun juga fungsinya, ketajamannya, dan keseimbangannya. Saat Anda melihat lukisan, Anda dapat melihat keindahannya, namun Anda tak bisa merasakannya. Saat Anda melihat pajangan, Anda bisa melihat indahnya, merasakannya, namun Anda tidak merasakan fungsinya. Sedangkan benda tajam, Anda mendapatkan keindahan, rasa, dan fungsi. Saya gambarkan begini. Saat Anda melihat sebuah katana, Anda melihat bentuknya yang khas. melihat bentuk tsuba, dan hasil polesan yang indah pada badan bilah. Bila diperkenankan, Anda boleh memegang pedang tersebut, merasakan keseimbangannya, beratnya, dan kualitas bahannya. Lebih dari itu, Anda bisa mengujikan keefektifannya sebagai senjata melalui tes tameshigiri. Dari berbagai hal tersebut, Anda menilai keindahan, kualitas, dan ketajaman. Maka saya mengatakan katana adalah benda seni yang indah, dan perumpamaan yang sama juga berlaku pada beberapa benda tajam lainnya.
Begitulah kira-kira penjabaran panjang saya mengenai benda tajam. Mungkin saatnya Anda merubah cara pandang Anda. Untuk contoh seni yang di dapat dari benda tajam tersebut, saya akan tampilkan beberapa gambar. Have a good day!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar