"Life is just like a sea. The deeper you dive, the darker will it be..."
Kalimat di atas, entah kata bijak atau bodoh, yang jelas saya suka. Simpel, nyata, dan jelas, kebenarannya dapat dibuktikan. Hanya sebuah renungan tentang hidup yang menua. Mungkin sebagian merasakan, sebagian tidak, tapi yang pasti adalah tiap manusia layaknya seperti penyelam. Ia menyelam terus lebih dalam, hingga akhirnya tenggelam di dasar bumi, laut. Laut, bukan secara denotasi, akan tetapi laut yang saya maksudkan di sini diibaratkan sebagai dunia. Dunia, sebuah keabstrakan yang kita rasakan, tak bisa dijelaskan, kita pahami, tapi tak bisa dikuasai. Dunia yang berbeda dengan bumi, di mana dunia manusia terus berkembang, makin canggih, makin nyaman, di mana bumi makin menua dan makin lapuk. Manusia adalah penyelam di dunia itu sendiri, di mana perbandingan antara keseluruhan laut dan seorang penyelam nampak sangat signifikan. Kecil, titik, itu penyelam, dan luas seluas-luasnya lah lautan. Begitupun dunia, sangat penuh dan sangat luas, dibandingkan kita yang sendiri, kecil, tiada berdaya. Akan tetapi alangkah lucunya di kala orang merasa jumawa atas dunia, sedangkan ia belum menaklukannya. Sudahkah kita bijak?
Kembali pada pokok pembahasan, mungkin bagi yang memiliki cukup pengalaman dengan orang lain, akan tahu bahwa kalimat yang mengawali posting ini ada benarnya. Sejak kecil, kita dahulu merasakan dunia itu indah, kita dilindungi, kita disayangi, tak ada tanggung jawab nyata. Mungkin sejak kecil kita merasa bahwa masa dewasa kita akan lebih indah. Mungkin benar mungkin tidak, kenyataan tidak seperti harapan bukan? Seperti perumpamaan di atas, the deeper you dive, the darker will it be. Makin dalam Anda menyelam, makin gelap jadinya. Kita mungkin melihat bagaimana dunia ini cukup apik memainkan drama, hingga kita sekarang melihat, bahwa yang terlihat baik, mulai menunjukkan sisi gelapnya, dan yang tadinya buruk, makin legam saja. Salah siapa? Yang jelas bukan Tuhan, ini hanyalah sistem yang dibangun manusia. Makin kita melihat intrik yang dibangun oleh sistem tersebut, makin nampak bahwa dunia ini lebih dari terumbu karang di lautan. Ada berbagai keanehan, kengerian yang tidak elok dipandang.
Bila Anda pernah menyelam di air atau laut, Anda akan merasakan bahwa ketika Anda menyelam makin dalam, Anda dapat merasakan tekanan yang lebih besar. Bukankah hidup juga begitu? Makin dewasa Anda, makin dalam ilmu yang Anda pelajari, makin Anda mendapat tekanan dari sekitar Anda. Seperti laut, tekanan yang ada sifatnya sangat kuat semakin Anda ke dalam, bila Anda tidak cukup kuat, tekanan itu yang akan menghancurkan Anda. Hanya yang kuat dan punya cukup pengalaman yang mampu menahan tekanan sebesar itu, seperti hidup, di mana yang kuat dan yang punya pendirian mampu mempertahankan diri dari dunia...
"Just opinions, many things that come originally out of my mind. Don't take it seriously though, life's just a game..."
Minggu, 29 Januari 2012
Selasa, 24 Januari 2012
Blades? Why blades?
Banyak orang yang mempertanyakan kenapa saya suka bermain, mengasah, merawat, mengoleksi, hingga tidur bersama benda tajam. Mau dijelaskan juga susah, karena tentu mereka sulit menerima. Oke, kalau Anda ndak percaya sama kalimat saya yang sebelumnya, coba cerna ini. "Saya suka benda tajam karena mereka terlihat indah dan mampu menciptakan keanggunan". Ada yang bisa menerima, ada yang tidak tentunya. Baiklah, saya jelaskan kalimat di atas.
Pertama, saya menyebut benda tajam sebagai substitusi pisau, pedang, golok, parang, etc. itu bukan tanpa maksud. Menggunakan istilah benda tajam dibandingkan istilah senjata memiliki signifikansi yang cukup besar menurut saya. Ya, memang mungkin beberapa benda tajam tadi dapat dikategorikan sebagai senjata, akan tetapi, lebih dari itu, benda tajam tersebut adalah alat, tools. Untuk apa? Tidak tahu! Fungsi tools adalah variabel, di mana konstantanya adalah pengguna itu sendiri. Lho? Gimana ceritanya Mas Dito kok tergantung orangnya? Gampangnya begini saja. Mas Dito adalah seorang tukang ikan. Mas Dito bekerja di counter ikan supermarket. Suatu hari, Mas Dito di berikan seekor ikan tuna seberat 160kg dan sebuah pedang katana. Apa yang Mas Dito lakukan? Kurang lebih, Mas Dito dengan statusnya sebagai tukang ikan, bakal membelah ikan tuna itu dengan susah payah menggunakan pedang katana itu. Lain halnya apabila Mas Dito adalah perampok. Mas Dito ada di hutan di pinggir perumahan warga. Mas Dito suatu hari menemukan sebuah golok baja. Instead of mencari kayu untuk dijual, karena Mas Dito adalah perampok, Mas Dito menyelinap mencari rumah warga, kemudian merampok di situ. Sekarang, berbeda kan? Got it?
Kedua, benda tajam, dalam berbagai bentuknya, saya lihat memiliki unsur keindahan. Tapi harap diperhatikan, benda tajam yang saya maksud di sini bukan benda tajam secara keseluruhan, tapi benda tajam yang tidak universal. Contohnya, silet, cutter, parang tramontina dan pisau dapur murahan, tidak akan saya anggap memiliki unsur estetis. Sebaliknya, pisau cukur, pisau sushi, golok kebun yang sudah dimodifikasi, dan sebuah pedang katana, memiliki unsur estetis yang cukup agar keindahannya dapat ditampilkan. Apa bedanya? Perhatikan list benda-benda di atas. List yang pertama, bila Anda mengerti maksud saya, tidak memiliki ke-khas-an tersendiri, dalam artian, satu sama lain bentuknya sama saja, dan dapat ditemui di mana-mana. Sementara, barang-barang di list kedua, adalah barang-barang yang khas. Misalnya, golok kebun hanya Anda temui di Indonesia, dan sulit menemukannya di Eropa, bahkan Jepang. Sementara, pedang katana dan pisau sushi (yanagiba) adalah khas Jepang dan yang tersebar hanya replikanya. Pisau cukur pun ada yang diproduksi secara limited, dan berbeda-beda, sehingga layak menjadi koleksi, seperti zippo. Untuk mengerti pasal ini, Anda mungkin harus mencoba sendiri. Coba beli sebuah pedang katana (replika saja, tidak usah nihonto), dan sebuah pisau dapur murahan. Anda pajang kedua benda tersebut di ruang tamu Anda, dan perhatikan, yang mana yang lebih merusak pemandangan.
Ketiga, benda tajam yang terkesan senjata tadi, tidak berbahaya, malah mengasyikkan. Kenapa begitu? Sebuah benda menjadi berbahaya bila digunakan untuk menyakiti orang lain. Hal ini terbukti ketika saya melempar seorang anak hingga jungkir balik hanya menggunakan tongkat bambu. Sadis amat? Gimana caranya? Bukan sadis pembaca sekalian, tapi itu hanya kesalahan pribadi dan salah perhitungan. Untuk caranya, lihat saja video aikido tentang tongkat melawan tangan kosong (ternyata cukup mudah dengan dasar beladiri yang cukup). Back to the topic. Sementara, saya tidak menggunakan koleksi saya untuk menyakiti siapapun. Satu-satunya orang yang tersakiti oleh koleksi saya hanyalah diri saya sendiri, di mana saya sering, tanpa sengaja, menyayat diri saya sendiri karena kecerobohan, dan kecerobohan itu tidak memiliki efek yang lethal, sehingga ini relatif tidak berbahaya. Mengasyikkan? Ini berkaitan dengan hobi pada dasarnya. Saya seringkali mengasah pisau, dalam sehari mungkin berkisar 3 jam. Ini saya lakukan tak lain karena kegemaran saya untuk melakukan modifikasi pada pisau. Saya melakukan ini, karena ada kepuasan tersendiri ketika saya selesai mengasah dan melihat hasilnya, sebuah pisau yang mengkilap, untuk saya pamerkan dan saya pajang. Tentu, saya mengasah tidak sembarangan. Tidak semua orang tau dan bisa mengasah. Kalau nekat, dia bisa merusak mata pisau. Saya menggunakan berbagai media yang mungkin tidak terpikirkan oleh Anda. Tapi ya, hasilnya bisa Anda lihat sendiri kalau Anda bertandang ke rumah saya. Sehingga, lebih dari bahaya, pisau yang mengkilat nan tajam tadi lebih terkesan indah. Kalau begitu, kenapa tidak menumpulkan pisau, lalu dikilatkan saja, kan bisa? Hahahaha, pisau mengkilat dan tumpul ibaratnya seperti barang KW, enak dilihat, tidak enak digunakan. Kasarnya seperti pelacur. Dilihat bagus, difungsikan sudah tidak baik. Prinsip saya, benda tajam, selain indah, juga harus fungsional. Maka dari itu, pisau saya yang mengkilap biasanya tajam, dan sangat fungsional untuk digunakan, entah memotong tulang, daging, bambu, kayu, dan kalau terpaksa, ya sebagai alat pertahanan diri.
Terakhir, benda tajam itu indahnya sulit digambarkan. Tapi dari apa yang saya pikirkan, benda tajam adalah gabungan dari sebuah karya seni berupa benda/patung/pajangan, dan lukisan, bahkan lebih dari itu. Keindahan benda tajam tak hanya dilihat dari baiknya kondisi benda tersebut, namun juga fungsinya, ketajamannya, dan keseimbangannya. Saat Anda melihat lukisan, Anda dapat melihat keindahannya, namun Anda tak bisa merasakannya. Saat Anda melihat pajangan, Anda bisa melihat indahnya, merasakannya, namun Anda tidak merasakan fungsinya. Sedangkan benda tajam, Anda mendapatkan keindahan, rasa, dan fungsi. Saya gambarkan begini. Saat Anda melihat sebuah katana, Anda melihat bentuknya yang khas. melihat bentuk tsuba, dan hasil polesan yang indah pada badan bilah. Bila diperkenankan, Anda boleh memegang pedang tersebut, merasakan keseimbangannya, beratnya, dan kualitas bahannya. Lebih dari itu, Anda bisa mengujikan keefektifannya sebagai senjata melalui tes tameshigiri. Dari berbagai hal tersebut, Anda menilai keindahan, kualitas, dan ketajaman. Maka saya mengatakan katana adalah benda seni yang indah, dan perumpamaan yang sama juga berlaku pada beberapa benda tajam lainnya.
Begitulah kira-kira penjabaran panjang saya mengenai benda tajam. Mungkin saatnya Anda merubah cara pandang Anda. Untuk contoh seni yang di dapat dari benda tajam tersebut, saya akan tampilkan beberapa gambar. Have a good day!
Pertama, saya menyebut benda tajam sebagai substitusi pisau, pedang, golok, parang, etc. itu bukan tanpa maksud. Menggunakan istilah benda tajam dibandingkan istilah senjata memiliki signifikansi yang cukup besar menurut saya. Ya, memang mungkin beberapa benda tajam tadi dapat dikategorikan sebagai senjata, akan tetapi, lebih dari itu, benda tajam tersebut adalah alat, tools. Untuk apa? Tidak tahu! Fungsi tools adalah variabel, di mana konstantanya adalah pengguna itu sendiri. Lho? Gimana ceritanya Mas Dito kok tergantung orangnya? Gampangnya begini saja. Mas Dito adalah seorang tukang ikan. Mas Dito bekerja di counter ikan supermarket. Suatu hari, Mas Dito di berikan seekor ikan tuna seberat 160kg dan sebuah pedang katana. Apa yang Mas Dito lakukan? Kurang lebih, Mas Dito dengan statusnya sebagai tukang ikan, bakal membelah ikan tuna itu dengan susah payah menggunakan pedang katana itu. Lain halnya apabila Mas Dito adalah perampok. Mas Dito ada di hutan di pinggir perumahan warga. Mas Dito suatu hari menemukan sebuah golok baja. Instead of mencari kayu untuk dijual, karena Mas Dito adalah perampok, Mas Dito menyelinap mencari rumah warga, kemudian merampok di situ. Sekarang, berbeda kan? Got it?
Kedua, benda tajam, dalam berbagai bentuknya, saya lihat memiliki unsur keindahan. Tapi harap diperhatikan, benda tajam yang saya maksud di sini bukan benda tajam secara keseluruhan, tapi benda tajam yang tidak universal. Contohnya, silet, cutter, parang tramontina dan pisau dapur murahan, tidak akan saya anggap memiliki unsur estetis. Sebaliknya, pisau cukur, pisau sushi, golok kebun yang sudah dimodifikasi, dan sebuah pedang katana, memiliki unsur estetis yang cukup agar keindahannya dapat ditampilkan. Apa bedanya? Perhatikan list benda-benda di atas. List yang pertama, bila Anda mengerti maksud saya, tidak memiliki ke-khas-an tersendiri, dalam artian, satu sama lain bentuknya sama saja, dan dapat ditemui di mana-mana. Sementara, barang-barang di list kedua, adalah barang-barang yang khas. Misalnya, golok kebun hanya Anda temui di Indonesia, dan sulit menemukannya di Eropa, bahkan Jepang. Sementara, pedang katana dan pisau sushi (yanagiba) adalah khas Jepang dan yang tersebar hanya replikanya. Pisau cukur pun ada yang diproduksi secara limited, dan berbeda-beda, sehingga layak menjadi koleksi, seperti zippo. Untuk mengerti pasal ini, Anda mungkin harus mencoba sendiri. Coba beli sebuah pedang katana (replika saja, tidak usah nihonto), dan sebuah pisau dapur murahan. Anda pajang kedua benda tersebut di ruang tamu Anda, dan perhatikan, yang mana yang lebih merusak pemandangan.
Ketiga, benda tajam yang terkesan senjata tadi, tidak berbahaya, malah mengasyikkan. Kenapa begitu? Sebuah benda menjadi berbahaya bila digunakan untuk menyakiti orang lain. Hal ini terbukti ketika saya melempar seorang anak hingga jungkir balik hanya menggunakan tongkat bambu. Sadis amat? Gimana caranya? Bukan sadis pembaca sekalian, tapi itu hanya kesalahan pribadi dan salah perhitungan. Untuk caranya, lihat saja video aikido tentang tongkat melawan tangan kosong (ternyata cukup mudah dengan dasar beladiri yang cukup). Back to the topic. Sementara, saya tidak menggunakan koleksi saya untuk menyakiti siapapun. Satu-satunya orang yang tersakiti oleh koleksi saya hanyalah diri saya sendiri, di mana saya sering, tanpa sengaja, menyayat diri saya sendiri karena kecerobohan, dan kecerobohan itu tidak memiliki efek yang lethal, sehingga ini relatif tidak berbahaya. Mengasyikkan? Ini berkaitan dengan hobi pada dasarnya. Saya seringkali mengasah pisau, dalam sehari mungkin berkisar 3 jam. Ini saya lakukan tak lain karena kegemaran saya untuk melakukan modifikasi pada pisau. Saya melakukan ini, karena ada kepuasan tersendiri ketika saya selesai mengasah dan melihat hasilnya, sebuah pisau yang mengkilap, untuk saya pamerkan dan saya pajang. Tentu, saya mengasah tidak sembarangan. Tidak semua orang tau dan bisa mengasah. Kalau nekat, dia bisa merusak mata pisau. Saya menggunakan berbagai media yang mungkin tidak terpikirkan oleh Anda. Tapi ya, hasilnya bisa Anda lihat sendiri kalau Anda bertandang ke rumah saya. Sehingga, lebih dari bahaya, pisau yang mengkilat nan tajam tadi lebih terkesan indah. Kalau begitu, kenapa tidak menumpulkan pisau, lalu dikilatkan saja, kan bisa? Hahahaha, pisau mengkilat dan tumpul ibaratnya seperti barang KW, enak dilihat, tidak enak digunakan. Kasarnya seperti pelacur. Dilihat bagus, difungsikan sudah tidak baik. Prinsip saya, benda tajam, selain indah, juga harus fungsional. Maka dari itu, pisau saya yang mengkilap biasanya tajam, dan sangat fungsional untuk digunakan, entah memotong tulang, daging, bambu, kayu, dan kalau terpaksa, ya sebagai alat pertahanan diri.
Terakhir, benda tajam itu indahnya sulit digambarkan. Tapi dari apa yang saya pikirkan, benda tajam adalah gabungan dari sebuah karya seni berupa benda/patung/pajangan, dan lukisan, bahkan lebih dari itu. Keindahan benda tajam tak hanya dilihat dari baiknya kondisi benda tersebut, namun juga fungsinya, ketajamannya, dan keseimbangannya. Saat Anda melihat lukisan, Anda dapat melihat keindahannya, namun Anda tak bisa merasakannya. Saat Anda melihat pajangan, Anda bisa melihat indahnya, merasakannya, namun Anda tidak merasakan fungsinya. Sedangkan benda tajam, Anda mendapatkan keindahan, rasa, dan fungsi. Saya gambarkan begini. Saat Anda melihat sebuah katana, Anda melihat bentuknya yang khas. melihat bentuk tsuba, dan hasil polesan yang indah pada badan bilah. Bila diperkenankan, Anda boleh memegang pedang tersebut, merasakan keseimbangannya, beratnya, dan kualitas bahannya. Lebih dari itu, Anda bisa mengujikan keefektifannya sebagai senjata melalui tes tameshigiri. Dari berbagai hal tersebut, Anda menilai keindahan, kualitas, dan ketajaman. Maka saya mengatakan katana adalah benda seni yang indah, dan perumpamaan yang sama juga berlaku pada beberapa benda tajam lainnya.
Begitulah kira-kira penjabaran panjang saya mengenai benda tajam. Mungkin saatnya Anda merubah cara pandang Anda. Untuk contoh seni yang di dapat dari benda tajam tersebut, saya akan tampilkan beberapa gambar. Have a good day!
Senin, 23 Januari 2012
Konsep Neraka vs. Konsep Penjara
Hey, selamat malam. Semoga Anda semua baik-baik saja ketika memulai membaca tulisan saya ini. Sebelumnya, permintaan maaf saya tujukan pada Anda bila tulisan ini membingungkan, mengacak-acak ide-ide Anda, membuat bosan, atau bahkan membuat Anda jatuh cinta. Mungkin efek terakhir tidak mungkin terjadi, tapi ya sudahlah, intinya adalah "this is an era of a free speech where individual opinions we're protected, thus, I use this opportunity to share good things I got in my mind with the others. So, be grateful for those who'll read this till the end, as I'll be grateful as well..."
So here we go. Kebiasaan saya adalah ketika saya melakukan hal-hal yang sangat lazim dilakukan seperti makan, menyetir, atau (maaf) buang air besar, pikiran aneh muncul di benak saya. Kini menerpa saya ketika makan seporsi mie ayam kontemporer, adalah sebuah pemikiran bahwa konsep neraka yang dikenalkan kepada masyarakat mungkin tidak penuh atau agak terlalu kejam. Sebuah konsep radikal mungkin, tapi menurut saya konsep neraka tidak jauh berbeda dengan konsep penjara pada umumnya, dan dalam hal ini adalah penjara kelas kakap tempat bernaungnya begal, pembunuh, pemerkosa, tukang sodomi, rampok dan sampah masyarakat lainnya. Memang kejam tempat itu, tapi bukan sepenuhnya kekejaman diciptakan oleh sang pencipta penjara itu, atau neraka. Dalam hal ini, penjara diciptakan pemerintah, dan neraka mau tidak mau harus kita katakan diciptakan oleh Tuhan untuk menghindari segala ambiguitas akibat kurangnya informasi mengenai asal usul neraka.
Saya berikan komparasi sederhana bagi Anda supaya memahami apa maksud saya di sini. Saya akan menjelaskan mengenai apa yang terlintas di benak saya yang masih sempit pemikirannya ini, tentang sebuah konsep neraka, namun saya meminta Anda membayangkan sebuah penjara. Kini Anda bayangkan melihat penjara, di mana ada gerbang masuknya dan ada penjaganya. Ada tembok yang tinggi, dan pagar jeruji besi. Anda masuk ke dalam, di sana ada orang-orang yang tampangnya mengerikan. Anda orang baru di sana. Tentu saja, Anda akan dipelonco terlebih dahulu. Apa bentuknya? Saya tidak tahu, bisa pemukulan, pemalakan, perampasan, atau lebih parah (maaf) sodomi. Tidak senang bukan? Ya, itu memang nasib Anda berada di sini karena kesalahan Anda, akan tetapi, segala bentuk perpeloncoan tersebut tak ada di ketentuan penjara, bahwa napi yang baru masuk harus dipukul, rampas, dan segala macamnya itu. Maksud saya, itu terjadi secara natural dilakukan oleh penghuni yang lain, yang lebih parah, dan dipengaruhi faktor lingkungan. Apakah Direktur penjara mengatur hal tersebut? Tidak tahu, tapi yang jelas mereka tidak menulis hal tersebut dalam daftar Aturan Main Lembaga Pemasyarakatan. Siksaan batin sebenarnya muncul dari kelakuan penghuni penjara tersebut. Ya mungkin ada hukuman dari penjaga, tapi napi lainnya kadang memperparah keadaan. Ruang gerak Anda dibatasi, dan Anda tak bisa keluar dari siksaan fisik dan batin tersebut.
Sekarang kembali Anda ke dunia nyata, ke blog saya ini. Konsep yang saya gambarkan tadi tidak jauh beda, dalam pandangan saya, dengan konsep neraka pada umumnya. Bersifat mengganjar, hukuman, pembatasan pergerakan, siksaan. Akan tetapi, sungguh gegabah bagi kita bila mau mengklaim bahwa Tuhan secara langsung menghukum kita, menyiksa kita, membakar dan seterusnya. Untuk apa Tuhan dikatakan Maha Penyayang, Pengasih, Pengampun dan lain-lain bila Ia melakukan hal tersebut. Tuhan di sana hanya menciptakan sebuah tempat untuk mengganjar. Yang melakukan berbagai macam hal aneh tersebut tentu bukan Ia. Anda pernah dengar bahwa iblis ditempatkan di neraka? Ya anggaplah iblis itu bos dari para begal tersebut. Dia lah yang melakukan perpeloncoan dan keisengan terhadap Anda. Sehingga, Tuhan sebetulnya menurut saya, mungkin murka dengan kelakuan pendosa, akan tetapi serta merta tidak membalas dendam. Lebih kepada rasa kecewa bila diibaratkan manusia, sehingga dengan sangat menyesal, Anda ditempatkan di neraka, begitulah seperti kata di kuis-kuis televisi.
Apa yang kemudian ingin saya katakan di sini adalah bahwa jangan terlalu cepat kita menghakimi bahwa Tuhan itu keji karena menghukum pendosa, sehingga balik mencerca Tuhan dan segala macamnya. Mungkin bukan Ia yang keji, tapi konsep yang tertanam di benak kita yang salah mencerna apa yang seharusnya kita kenal. Mungkin konsep saya ini bukan konsep yang benar pula, akan tetapi, mungkin di luar sana ada yang setuju dan meyakini, seperti saya, bahwa apapun yang tertulis di kitab suci, Tuhan tetap Maha Baik, meskipun saya sering lalai dalam kewajiban saya.
So here we go. Kebiasaan saya adalah ketika saya melakukan hal-hal yang sangat lazim dilakukan seperti makan, menyetir, atau (maaf) buang air besar, pikiran aneh muncul di benak saya. Kini menerpa saya ketika makan seporsi mie ayam kontemporer, adalah sebuah pemikiran bahwa konsep neraka yang dikenalkan kepada masyarakat mungkin tidak penuh atau agak terlalu kejam. Sebuah konsep radikal mungkin, tapi menurut saya konsep neraka tidak jauh berbeda dengan konsep penjara pada umumnya, dan dalam hal ini adalah penjara kelas kakap tempat bernaungnya begal, pembunuh, pemerkosa, tukang sodomi, rampok dan sampah masyarakat lainnya. Memang kejam tempat itu, tapi bukan sepenuhnya kekejaman diciptakan oleh sang pencipta penjara itu, atau neraka. Dalam hal ini, penjara diciptakan pemerintah, dan neraka mau tidak mau harus kita katakan diciptakan oleh Tuhan untuk menghindari segala ambiguitas akibat kurangnya informasi mengenai asal usul neraka.
Saya berikan komparasi sederhana bagi Anda supaya memahami apa maksud saya di sini. Saya akan menjelaskan mengenai apa yang terlintas di benak saya yang masih sempit pemikirannya ini, tentang sebuah konsep neraka, namun saya meminta Anda membayangkan sebuah penjara. Kini Anda bayangkan melihat penjara, di mana ada gerbang masuknya dan ada penjaganya. Ada tembok yang tinggi, dan pagar jeruji besi. Anda masuk ke dalam, di sana ada orang-orang yang tampangnya mengerikan. Anda orang baru di sana. Tentu saja, Anda akan dipelonco terlebih dahulu. Apa bentuknya? Saya tidak tahu, bisa pemukulan, pemalakan, perampasan, atau lebih parah (maaf) sodomi. Tidak senang bukan? Ya, itu memang nasib Anda berada di sini karena kesalahan Anda, akan tetapi, segala bentuk perpeloncoan tersebut tak ada di ketentuan penjara, bahwa napi yang baru masuk harus dipukul, rampas, dan segala macamnya itu. Maksud saya, itu terjadi secara natural dilakukan oleh penghuni yang lain, yang lebih parah, dan dipengaruhi faktor lingkungan. Apakah Direktur penjara mengatur hal tersebut? Tidak tahu, tapi yang jelas mereka tidak menulis hal tersebut dalam daftar Aturan Main Lembaga Pemasyarakatan. Siksaan batin sebenarnya muncul dari kelakuan penghuni penjara tersebut. Ya mungkin ada hukuman dari penjaga, tapi napi lainnya kadang memperparah keadaan. Ruang gerak Anda dibatasi, dan Anda tak bisa keluar dari siksaan fisik dan batin tersebut.
Sekarang kembali Anda ke dunia nyata, ke blog saya ini. Konsep yang saya gambarkan tadi tidak jauh beda, dalam pandangan saya, dengan konsep neraka pada umumnya. Bersifat mengganjar, hukuman, pembatasan pergerakan, siksaan. Akan tetapi, sungguh gegabah bagi kita bila mau mengklaim bahwa Tuhan secara langsung menghukum kita, menyiksa kita, membakar dan seterusnya. Untuk apa Tuhan dikatakan Maha Penyayang, Pengasih, Pengampun dan lain-lain bila Ia melakukan hal tersebut. Tuhan di sana hanya menciptakan sebuah tempat untuk mengganjar. Yang melakukan berbagai macam hal aneh tersebut tentu bukan Ia. Anda pernah dengar bahwa iblis ditempatkan di neraka? Ya anggaplah iblis itu bos dari para begal tersebut. Dia lah yang melakukan perpeloncoan dan keisengan terhadap Anda. Sehingga, Tuhan sebetulnya menurut saya, mungkin murka dengan kelakuan pendosa, akan tetapi serta merta tidak membalas dendam. Lebih kepada rasa kecewa bila diibaratkan manusia, sehingga dengan sangat menyesal, Anda ditempatkan di neraka, begitulah seperti kata di kuis-kuis televisi.
Apa yang kemudian ingin saya katakan di sini adalah bahwa jangan terlalu cepat kita menghakimi bahwa Tuhan itu keji karena menghukum pendosa, sehingga balik mencerca Tuhan dan segala macamnya. Mungkin bukan Ia yang keji, tapi konsep yang tertanam di benak kita yang salah mencerna apa yang seharusnya kita kenal. Mungkin konsep saya ini bukan konsep yang benar pula, akan tetapi, mungkin di luar sana ada yang setuju dan meyakini, seperti saya, bahwa apapun yang tertulis di kitab suci, Tuhan tetap Maha Baik, meskipun saya sering lalai dalam kewajiban saya.
Langganan:
Komentar (Atom)