Beberapa waktu ke belakang ini saya menyempatkan waktu saya bersama seorang kenalan saya dari tetangga sebelah, membahas mengenai dunia per-keris-an dan berbagai macam filosofi dan kearifan lokal yang ada di bumi Nusantara kita ini. Saya menemukan bahwa terdapat banyak pembahasan menarik yang dapat kita tilik dari sudut pandang orang kuno zaman dahulu, di mana teknologi dan penemuan masih minim, tapi bagaimana orang-orang terdahulu telah berhasil mencapai, atau paling tidak mendekati tatanan hidup orang-orang yang hidup di era masa kini. Seakan juga memberikan hembusan angin segar pada saya bahwa banyak kebijaksanaan lokal yang sebenarnya banyak dilupakan oleh pemikiran modern, akan tetapi sebenarnya berhasil menciptakan tatanan sosial yang harmonis dan minim pertentangan di masa lalu. Berhubung saya adalah seorang penggemar persenjataan, saya mengawali diskusi dan kajian-kajian saya mengenai filosofi tersebut dari dunia persenjataan kuno pula.
Berawal dari seorang kerabat yang menunjukkan pada saya sebilah keris, dengan tajuk "Brojoguno", seorang empu dari Madura, yang dipercayai kerisnya memiliki kemampuan tersendiri, yakni kemampuan menghujam metal, logam, yang umum dipakai oleh prajurit pada era-nya sebagai perlindungan terhadap senjata tajam. Saya memang bukan seorang yang tunduk akan dunia mistis, atau klenik, dan tidak juga saya menyangkal keberadaan kekuatan di luar batas standar manusia. Akan tetapi bukan mengenai itu yang saya bicarakan di sini, namun, kemampuan teknologi lama yang mampu menyaingi teknologi masa sekarang. Saya diperagakan oleh kerabat saya tersebut mengenai kemampuan keris Brojoguno yang mampu menembus koin logam Rp1000,- keluaran tahun 2010 yang materialnya adalah nikel dan baja. Sebagai orang yang telah berkutat di dunia persenjataan tajam selama kurang lebih 5 tahun, saya tahu pasti, bahwa menghujamkan senjata tajam ke logam lain akan menyebabkan kerusakan pada senjata tersebut. Akan tetapi yang terjadi adalah bahwa tidak terdapat kerusakan yang dialami oleh keris tersebut setelah sekitar 4 kali dihujamkan ke koin logam secara berulang-ulang. Segera saya diinfokan bahwa apa yang didemonstrasikan pada saya bukanlah sebuah kekuatan mistis, akan tetapi keunggulan metalurgi yang telah dimiliki bangsa di Nusantara sejak abad 15-16. Ini yang merupakan titik awal keinginan saya untuk ingin lebih mengetahui kearifan apa saja yang tersimpan di dalam bumi Nusantara ini.
Saya sering mencari info mengenai persenjataan yang tersebar di seluruh dunia, dan harus saya akui, bahwa kemampuan yang dimiliki oleh keris Brojoguno tersebut bukanlah hal yang baru buat saya karena saya pernah melihat senjata lain yang juga memiliki daya rusak yang sama. Namun, yang menjadi sorotan adalah senjata lain-lain itu tidak dibuat pada era yang sama dengan keris Brojoguno tadi, dengan kata lain, senjata-senjata lain itu dibuat pada era masa kini di mana teknologi metalurgi sudah berkembang dan kontrol pembuatan barang-barang dengan kemampuan metalurgi tinggi sudah mampu diproduksi secara luas, sementara, keris Brojoguno tadi diproduksi saat teknologi yang sudah saya sebutkan tadi belum tersedia di Nusantara, bahkan di belahan dunia lainnya. Keberadaan informasi ini seakan menyadarkan saya bahwa sesungguhnya, ada sesuatu yang lebih yang dimiliki oleh bangsa ini, akan tetapi kita sudah keburu malas membahasnya, apalagi menerapkannya.